+62 852 61706371
khairul.amri99@gmail.com

Profesi Akuntan Publik, Hobi Travelling dan Kelulusan Akademisi

Profesi Akuntan Publik, Hobi Travelling dan Kelulusan Akademisi

Profesi Akuntan Publik

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan selama pekerjaan di lapangan kami tuangkan dalam sebuah narasi. Namun, sejak 2019 harus lebih banyak membaca dan menulis sehingga kegiatan selama perjalanan menuju kantor klien kami tulis. Dimana profesi yang saat ini mendukung hobi kami yakni travelling.

Perjalanan kita kali ini adalah Aceh, propinsi yang terletak paling barat Indonesia. Propinsi yang tak kalah indah dengan propinsi lainnya akan keindahan alamnya. Pesona alam yang benar-benar eksotis. Perjalanan kali ini mengambil dari jalur pantai timur, jalur yang paling banyak di lalui untuk ke Banda Aceh.

Bukan hanya satu jalur untuk menuju Banda Aceh, namun ada jalur lain yakni jalur tengah dan pantai barat. Jalur tengah merupakan pegunungan dan pantai barat yang tidak kalah indah. Jalur pantai barat sendiri memiliki keindahan pantai dimana kita di manjakan oleh pemandangan laut sepanjang perjalanan. Walau admin belum pernah melaluinya dan hanya mendengar dari cerita teman-teman yang sudah lewat jalur itu.

Menjalani Profesi

Profesi berbeda dengan pekerjaan. Profesi merupakan bagian dari pekerjaan yang memiliki keahlian khusus. Profesi saya adalah seorang auditor eksternal yang bekerja di bawah naungan Kantor Akuntan Publik (KAP). Selain berprofesi sebagai auditor, saya juga seorang dosen di salah satu kampus swasta di Kota Medan dan memiliki beberapa perusahaan, lembaga penelitian dan yayasan.

Salah satu perusahaan saya adalah Rekan Institute Konsultansi & Training yang merupakan sebuah merek dari Rekan Bisnis Andalan, cv. Perusahaan yang bergerak di bidang Penyusunan Laporan Keuangan, Perpajakan hingga Dana Kampanye. Berdiri sejak tahun 2012 dan baru berbadan hukum tahun 2018 untuk meluaskan usaha tersebut.

Berpengalaman menangani perusahaan baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hingga Penanaman Modal Asing (PMA). Selain itu, kami juga menangani beberapa Partai Politik hingga Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota serta Gubernur dan Wakil Gubernur mulai dari Aceh hingga Jambi untuk menangani Penyusunan Dana Kampanye.

Pada perjalanan ke Aceh ini kami melakukan pekerjaan audit laporan keuangan untuk Yayasan Pendidikan dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sebelumnya, saya mengirimkan anggota tim terlebih dahulu untuk melaksanakan pekerjaan ini. Kedua entitas ini berada dalam kabupaten yang sama yakni Kabupaten Aceh Besar tepatnya di Bundaran Lambaro, tepatnya di Kecamatan Ingin Jaya.

Untuk pekerjaan ini sendiri sedikit terlambat di sebabkan saya harus segera menyelesaikan masa studi. Masa studi yang tempuh selama dua tahun enam bulan untuk program Magister Ilmu Akuntansi. Kuliah di tempat yang sama dari Program Strata Satu yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Iboih Pulau Weh

Hobby Travelling

Sejalan dengan hobi yakni hobi jalan-jalan atau bahasa Medan raon-raon. Mulai dari kecil, saya telah di kenalkan alam oleh orang yang luar biasa dan kini telah kembali pada Sang Khalik. Seorang pria yang berjuang untuk anak-anak dan istrinya dengan tulus. Mengajarkan kami akan makna manusia yang wajib menyembah Alloh Subhana Wa Ta’ala, kami memanggilnya AYAH. Al Fatihah.

Bahkan, sejak dalam kandungan. Ibu saya bercerita bahwa saya sudah di bawah oleh ayah ke Danau Toba, tepatnya di Parapat. Ayah yang suka jalan-jalan. Dari abang pertama saya mengatakan bahwa, ayah tidak ingin anak-anaknya kampungan walau tinggal di kampung. Ayah ingin anaknya memiliki wawasan yang luas lebih darinya. Sampai akhir hayatnya, sebelum ia meninggal, masih sempat ajak cucu-cucu nya untuk sekedar mandi di kolam renang terakhir kalinya.

Saya pernah merasakan perjalanan yang jauh dengan ayah. Berempat yakni saya, ayah, bapauda dan inanguda yang tinggal di Pematangsiantar. Tujuan kami adalah Panyabungan, Mandailing Natal untuk mengunjungi sepupu yang tidak lain adalah anak bapauda kami. Seingat saya itu awal tahun 2009, setahun sejak saya meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di Medan. Maaf, sambal menangis saya menulis artikel ini.

Perjalanan terjauh terakhir kami dengan ayah adalah ke Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat. Kami membawa ayah dan mamak ke Bonjol untuk mengunjungi dan silaturahim ke besan ayah, tepatnya mertua dari abang pertama saya. Perjalanan kami mulai dari pantai barat dan kembali dari pantai timur.

Hobi perjalanan ini yang menurun dari ayah ke saya. Menjadi pelengkap pula bahwa istri juga memiliki hobi yang sama yakni travelling. Profesi yang saya jalani saat ini selaras dengan hobi. Maka saat saya melaksanakan pekerjaan di Aceh selain bawa anggota tim, saya juga bawa anak, istri dan adik ipar.

Dahulu, setiap melaksanakan pekerjaan di lapangan selalu sendiri bahkan hingga anak pertama di lahirkan. Kini saya bertekad, saat pelaksanaan pekerjaan lapangan berupaya membawa anak dan istri. Berniat seperti Almarhum Ayah kami, bawa anak dan istri untuk membuka wawasan.

Hari pertama di Aceh, saya bekerja di kantor klien. Anak dan istri ikut dengan kami, berhubung teman lama istri saya berjualan di yayasan yang sedang kami periksa atau audit. Hari kedua, kami melaksanakan pekerjaan di tempat kedua yakni BPR. Hari kedua ini saya memberikan kebebasan untuk kepada anak dan istri untuk mengelilingi Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Perjalanan dari pantai timur menuju Aceh di mulai dari Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar hingga Kota Banda Aceh. Perjalanan baik pergi dan pulang dari Aceh kami beristirahat dalam mobil dengan menepi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pada saat pergi, kami menginap di Lhoksukon, Aceh Utara sebelum Kota Lhokseumawe.

Begitu juga pada saat pulang, kami beristirahat di SPBU sebelum Kota Bireuen. Berhenti untuk makan siang di Kota Langsa dan beristirahat cukup lama disana. Sempat tersesat untuk mencari oleh-oleh khas Aceh, Kue Kak Na. Tengah malam “di sesatkan” oleh google maps untuk mencari oleh-oleh tersebut. Di arahkan hingga rumah produksi dan telah tutup karena sudah tengah malam.

Sebelum kembali ke Medan, kami menyempatkan bermain di pantai. Pantai yang terkenal indah yakni Lhoknga dan Lampuuk. Bahagia melihat senyum dan tawa anak istri, anak yang terus main pasir. Di usianya sekarang, ia memang suka bermain pasir.

Selain ke Lhoknga dan Lampuuk, kami juga menyeberang yang dikenal Titik Nol Barat Indonesia. Kami ke Pulau Weh dengan ibukota Sabang. Pergi dengan kapal cepat, menginap di Pulau Weh di Iboih. Pulang dari Pulau Weh naik kapal lambat masyarakat mengenalnya dengan Kapal BRR. Untuk cerita selama di Aceh, saya akan buat artikel khusus.

Kelulusan Akademik

Keterlambatan untuk pelaksanaan pekerjaan audit ini salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian jadwal untuk sidang tesis saya. Jatuhnya mental setelah Seminar Hasil membuat saya memperlambat sidang tesis, ini juga menjadi salah satu faktor. Hingga akhirnya pegawai yang menelepon saya untuk segera selesaikan pendidikan hanya tinggal sidang tesis.

Segera saya hubungi semua dosen, baik pembimbing hingga penguji untuk mempertanyakan tanggal ujian. Senin, 04 Februari 2019 menjadi tanggal dan hari saya menyelesaikan Studi Magister Ilmu Akuntansi (S2) saya. Empat hari sebelum hari terakhir bayar uang kuliah dan tepat tanggal lima merupakan hari libur nasional. Waktu normal untuk sidang adalah satu minggu dari tanggal seminar hasil, saya hampir dua bulan yakni 12 Desember 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *