+62 852 61706371
khairul.amri99@gmail.com

Sate Danguang-Danguang Nan Lamo

Sate Danguang-Danguang Nan Lamo

Januari lalu sebelum mencuatnya Covid-19 ini, kami ada tugas ke Pekanbaru dan memutuskan untuk memutar perjalanan pulang ke Medan. Kami dari jalur tengah, Pekanbaru – Bukittinggi – Medan. Berangkat dari Pekanbaru tengah hari dan sampai di Bukittinggi malam hari. Kami singgah di beberapa titik, Kelok 9, Lembah Harau dan Payakumbuh. Sambil menikmati indahnya pesona alam Sumatera Barat.

Sepanjang perjalanan dari Kabupaten Kampar, Riau hingga Limapuluh Koto, Sumatera Barat di hadapkan hamparan sawah dan danau. Kami yang baru melewati jalan ini sebelumnya tidak mengetahui jika di Kabupaten Kampar ada danau, danau ini bernama Danau Rusa. Kami juga tidak tahu kenapa danau ini mendapatkan nama tersebut.

Danau ini cukup luas, dimana sebagian dari danau ini ada di Kabupaten Kampar, Riau dan Limapuluh Koto, Sumatera Barat. Terdapat jembatan yang melintasi danau tersebut. Saat kami melintasi danau itu, tidak terlalu ramai dan kami tidak mengetahui kenapa danau tersebut kurang di minati pengunjung.

Bertemu dengan beberapa “saudara” semasa kuliah dahulu. Walau hanya sebentar, namun terpenting sudah menjalin silaturahim walau sambil lewat. Sebab memang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan di Medan. Saat bertemu “saudara” di Lembah Harau, mereka merekomendasikan makanan Khas Minang, sate yang sudah sama-sama kita ketahui. Sate itu sesuai dengan judul ini, Sate Danguang-Danguang Nan Lamo.

Konon sate ini adalah “ikon” Kota Payakumbuh. Tempatnya di perempatan jalan atau Tugu Adipura Kota Payakumbuh. Jalur Pekanbaru menuju Bukittinggi, kami lewat malam hari dan tidak tahu apakah siang hari buka. Penetapan harga dari sate ini juga tergolong unik, mereka menjual pertusuk sate. Harga dari setiap tusuk sate sebesar Rp. 2.900,-.

Disini mereka tidak menyediakan sate daging ayam, melainkan seluruhnya daging sapi. Mulai dari paru, lidah dan sisi daging lainnya. Bumbu yang meresap dari tiap daging di tiap tusuk-nya menjadi penyemangat untuk tidak berhenti mengunyah-nya. Terlebih, kami menyantap sate ini bertemankan keripik singkong sambal yang di taburkan.

Ada niatan untuk kembali menikmati indahnya alam dan enak-nya makanan Sumatera Barat. Qadarullah, sepertinya untuk keliling Sumatera Barat tengah tahun ini di undur karena adanya Covid-19. Namun, semua ini ada hikmahnya dan akan segera selesai.

5 Responses

  1. wah menarik untuk dikunjungi kalo ke pariaman nih. thank you infonya bang. jadi pengen jajan wkwk.

  2. Dyah ummu AuRa says:

    Emang enak banget ni bang, sate daguang-daguang. INi yang di deket pasar payakumbuh bukan? kalau iya wah sama kami kemarin juga nyobain ini waktu ikut paksu kerja ke payakumbuh.

  3. Mantul jalan2nya ya Bg… aduh itu foto satenya ruar biasa…sukses bikin yg baca ngences deh jdnya hihi… nice story Bang

  4. Yanti Ani says:

    Aihh bikin ngiler ini kakak, surga kuliner bagi penyuka sate sapi karena bisa cicipi aneka bahan sate dari sapi semua

  5. Harum says:

    Salah satu masakan khas padang adalah sate padang ya kan. Baru tahu namanya danguang-danguang nan lamo. Itu sama nggak rasa bumbunya seperti sate padang yang ada di medan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *